Wonuabombana.id – Kekhawatiran terhadap memudarnya identitas Moronene, minimnya dokumentasi resmi sejarah lokal, serta proses fragmentasi dan marjinalisasi sosial menjadi latar belakang utama peluncuran buku Trilogi Moronene: Kerajaan, Kolonialisme, dan Republik, karya Kasra Jaru Munara.
Peluncuran buku tersebut berlangsung di Aula Pertemuan Kantor Dinas Perpustakaan Kabupaten Bombana, Kamis (18/12/2025), dan dihadiri langsung oleh Wakil Bupati Bombana Ahmad Yani, tokoh adat, akademisi, serta pemerhati budaya. Acara yang dimulai pukul 15.30 WITA itu berlangsung lancar meski dilaksanakan dalam durasi yang relatif singkat.
Sejak pertama kali diperkenalkan, buku ini langsung menarik perhatian publik. Desain visual, tata letak, hingga sampulnya dinilai memikat. Namun bukan hanya tampilannya yang menonjol—isi buku tersebut menyajikan kajian mendalam dan sistematis mengenai perjalanan panjang sejarah Suku Moronene dari masa ke masa.
Buku Trilogi Moronene mengulas tiga fase penting sejarah Moronene, yakni fase kerajaan, masa kolonialisme, hingga proses integrasi ke dalam Negara Republik Indonesia. Melalui buku ini, penulis berupaya menghadirkan narasi sejarah Moronene yang selama ini minim terdokumentasi dalam literatur tertulis.
Dalam pemaparannya, penulis menjelaskan setidaknya terdapat empat alasan utama yang melatarbelakangi penulisan buku ini, yaitu:
- Minimnya dokumentasi, akibat kurangnya catatan resmi sejarah Moronene;
- Hilangnya narasi lokal, sebagai dampak sentralisasi sejarah nasional yang mengikis cerita-cerita daerah;
- Penguatan identitas dan jati diri Moronene, di mana rekonstruksi identitas dan ingatan kolektif dinilai penting bagi generasi muda;
- Dinamika marjinalisasi, yang ditandai oleh fragmentasi elite lokal dan terbentuknya persepsi inferioritas kolektif.
Penulis mengakui bahwa warisan sejarah dan budaya Moronene selama ini lebih banyak diturunkan secara lisan, seperti melalui tradisi Kada, dengan sangat sedikit peninggalan tertulis.
“Tujuan utama buku ini adalah memperbanyak sumber bacaan tentang Moronene dan menggugah generasi muda agar mau meneliti, menulis, serta menjaga identitasnya. Ada kesan identitas Moronene semakin melemah, dan mudah-mudahan buku ini dapat memberikan penguatan dan semangat, khususnya bagi generasi muda, terutama Gen Z Moronene. Buku ini diharapkan menjadi rujukan dan refleksi sejarah untuk mengenal jati diri serta sejarah leluhur sebagai bekal membangun masa depan,” ujar Kasra.
Ia menambahkan, pemahaman terhadap sejarah masa lalu sangat penting agar generasi muda mampu merefleksikan kondisi hari ini dan menulis arah masa depan mereka sendiri.
“Dengan memahami sejarah, mereka dapat memperkuat jati diri dan rasa percaya diri. Tidak ada lagi
rasa malu atau sungkan mengaku sebagai orang Moronene,” tegasnya.
Menjawab pertanyaan apakah buku ini dimaksudkan untuk menggantikan sejarah nasional, Kasra dengan tegas menepis anggapan tersebut. Menurutnya, kehadiran buku ini justru bertujuan untuk melengkapi.
“Fakta yang harus kita akui, Moronene memang belum banyak masuk dalam radar sejarah nasional. Buku ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan apabila ke depan dilakukan penulisan sejarah di tingkat daerah maupun provinsi,” jelasnya.
Dalam kesempatan wawancara dengan awak media, Kasra juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi Bahasa Moronene yang kian menuju kepunahan. Sejumlah laporan menunjukkan jumlah penutur bahasa ibu Moronene terus menurun setiap tahun.
“Yang berkurang itu bukan jumlah orang Moronene-nya, tetapi penuturnya. Secara demografis jumlahnya bertambah, namun yang menggunakan Bahasa Moronene justru semakin sedikit,” ungkapnya.
Berdasarkan berbagai studi, penutur aktif Bahasa Moronene saat ini umumnya berusia di atas 50 hingga 60 tahun. Sementara generasi muda sebagian besar telah beralih sepenuhnya menggunakan Bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Kasra juga mengungkap faktor ekonomi sebagai salah satu penyebab menurunnya minat menggunakan Bahasa Moronene, terutama di luar wilayah Bombana. Bahasa Moronene kerap diasosiasikan dengan kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah, sehingga memunculkan keengganan untuk menggunakannya.
Menurutnya, hal ini merupakan bentuk persepsi inferioritas kolektif yang berakar pada pengalaman sejarah masa lalu.
“Pola pikir seperti ini harus diubah. Orang Moronene harus bangga dengan identitas dan bahasanya sendiri,” tegasnya.
Melalui buku Trilogi Moronene, penulis berharap karya ini tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi pemantik kesadaran kolektif untuk memahami sejarah secara kontekstual, serta mendorong upaya menjaga bahasa, budaya, dan identitas Moronene agar tidak hilang ditelan zaman.




