Bau-bau, Wonuabombana.id – Meskipun telah ada dari pihak lain di Kerajaan Moronene Keuwia Rumbia yang juga telah terpilih menjadi Raja, konon menjadi Raja ke VIII, akan tetapi, sepengetahuan Kesultanan Buton, Raja di Kerajaan Moronene Keuwia Rumbia, masih tetap PYM Apua Mokole Alfian Pimpie., SH., M.AP yang SAH.
Terlebih lagi, setelah kunjungan Silaturahmi Raja Moronene Keuwia Rumbia PYM. Apua Mokole Alfian Pimpie Sabtu Malam 21 Juni 2025 dikediaman Sultan Buton, yang didampingi perangkat Kerajaan, dan Sultan Buton yang ke-XLI PYM. Ir. H. LM. Sjamsul Qamar, M.T., IPU mendengarkan secara langsung uraian Tatanan dan Hukum Adat di Kerajaan Moronene yang disampaikan oleh Tuko Wonua/Mokole Penyangga Kerajaan Moronene Keuwia Rumbia, Muh. Kasim D, S.E, yang mana Kerajaan Moronene masih menganut sistem Monarki Absolut (Secara Garis Lurus), dari Raja Pertama hingga kini dan seterusnya harus turunan langsung.
Meski secara umum sebagai mana kita ketahui, Sultan memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada Raja, misalnya saja setelah masuknya Agama Islam di Nusantara, Sultan memiliki cakupan kekuasaan yang lebih luas. Namun begitu, Sultan tidak bisa mengintervensi Raja-Raja di Wilayahnya.
Seperti halnya Kerajaan Moronene, khususnya Keuwia Rumbia. Sultan Buton tidak punya kapasitas untuk mengatur Urusan Rumah Tangga Kerajaan Moronene KeuwiA Rumbia. Sejak dahulu kala, hingga kini. Ini adalah kutipan pernyataan PYM. Apua Mokole Alfian Pimpie di Media ini yang telah terbit sebelumnya.
Walaupun harus diakui, Wonua Bombana sebelumnya masuk kedalam wilayah pemerintakan Kabupaten Buton kala itu. Sebelum pada akhirnya, Bombana berdiri sendiri menjadi Kabupaten/Daerah Otonom pada Bulan Desember 2003 lalu.
Sultan Buton ke-XLI PYM. LM. Sjamsul Qamar merasa sangat senang, bahagia, dan mengapresiasi Raja Moronene Keuwia Rumbia Apua Mokole Alfian Pimpie beserta rombongan karena telah datang bersilaturahmi ke kediamannya.

“Yang saya hormati Yang Mulia (YM) Raja Moronene Keuwia Rumbia beserta Jajarannya yang hadir pada malam Hari ini, yang mana pada malam Hari ini kita hadir dalam keadaan sehat, dalam keadaan bersukacita, betemu bersilaturahmi saya kira itu kesyukuran yang sangat baik”, ucap Sultan Buton PYM. LM. Sjamsul Qamar.
“Selanjutnya tentang masalah ini (Kisruh di Internal Kerajaan Moronene Keuwia Rumbia), sebetulnya kami pertama, sangat mengapresisi kehadiran Bapak-bapak disini, berarti hubungan kita sangat baik. Tentunya kami berterimakasih atas kunjungan ini. Jadi ada masalah apapun itu, kita sesama bangsa saling meberikan nasehat, atau saling menasehati”, kata Sultan Buton kembali PYM. LM. Sjamsul Qamar.
Sultan juga mengatakan, Kesultanan Buton sangat menghormati Adat Istiadat yang ada didaerah masing-masing. “Sebab kami tentunya sebagai Lembaga Adat Kesultanan Buton juga pada saat ini, tidak lagi seperti dulu. Dulu juga sebenarnya sangat menghargai, hanya memang ada sedikit campur tangannya yang lebih kuat, namun saat ini pemerintahlah yang menjadi pedoman kita. Jadi itulah prinsip-prinsip yang kami laksanakan disini”, tambahnya.
“Oleh sebab itu dengan adanya penjelasan dari Mokole dan seluruhnya, kami tentunya sudah bisa menerima dan memahami, jadi pada dasarnya sudah mendukung. Jadi itulah kesimpulan dari kami, muda-mudahan ini sudah sesuatu yang baik di masa-masa yang akan datang,
Harapan kami tentunya, tidak terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan. Harapan kami dari pihak yang berseberangan, bisa menyesuaikan diri, bagaimana bisa menerima apa yang menjadi Adat Istiadat yang berlaku sesuai di Moronene”, tutup PYM. LM. Sjamsul Qamar yang juga didampingi langsung oleh jajaran perangkat Kesultanan Buton.

Pernyataan serupa juga diungkapkan Kenepulu (Hakim kalau dalam Kerajaan), Kesultanan Buton ke-XLI terkait pertemuan Raja Moronene Keuwia Rumbia ke VII didampingi perangkat Kerajaan, dengan Sultan Buton, Kenepulu berujar, yang pertama, sistim Kerajaan mengacu pada bagaiaman Hukum Adat yang dianut oleh setiap Kerajaan Suku Bangsa yag ada di Nusantara.
Sehingga terkait Polemik yang ada di Bombana, berkaitan dengan “Pemakzulan” dari pihak sebelah, itu dianggap mulai dari prosesnya semua, itu tidak sesuai dengan Tatanan dan Hukum Adat yang berlaku di Kerajaan Moronene setelah yang bersangkutan mendengarkan penjelasan dari beberapa Tokoh yang ikut dalam Rombongan Raja Moronene.
Terus yang kedua, Kenepulu Kesultanan Buton juga menyampaiakan, sebaiknya Kerajaan itu bisa beraviliasi dan berharmonisasi denagan pemerintah. Dan apa yang telah dilakukan oleh pihak sebelah, dianggap cacat prosedural.

Kapita Lao Kesultanan Buton yang ke-XLI pula ikut memberikan tanggapan atas polemik yang terjadi di Kerajaan Moronene Keuwia Rumbia. Menurut Kapita Lao, selaku kerabat, yang mana Kesultanan Buton mempunyai Hubungan Historis dengan Kerajaan Moronene, maka Kapita Lao pun mangatakan bahwa, “Perdamaian itu Jauh Lebih Baik”. Apalagi sesama keluarga Moronene. Akan tetapi, dia kembali berpesan, tetap harus mengacu pada Hukum-hukum Adat yang berlaku disetiap Etnis Kerajaan masing-masing yang ada di Nusantara.
Sehingga sebagai kesimpulan dari pertemuan silaturahmi anatara Raja Moronene Keuwia Rumbia ke-VII dan Sultan Buton ke-XLI, Mokole Gufran Kapita ST. yang diamanahkan sesuai kesepakatan pertemuan, nantinya kembali ke Wonua Bombana dan akan segera mempersiapkan kegiatan besar.
Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan Adat dalam Suku Moronene yang telah dilakukan oleh para leluhur Suku Moronene yaitu “Montewehi Wonua/Mensucikan Negeri”. Ini adalah murni inisiatif dari Raja Moronene Keuwia Rumbia, Pauno Rumbia ke-VII Apua Mokole Alfian Pimpie beserta jajaran perangkat Adat Kerajaan Moronene Keuwia Rumbia.
“Saya yang dipercaya dari Kapita Lao Kerajaan Moronene Keuwia Rumbia, akan bersama perangkat Adat Kerajaan yang lainnya, serta Tetua, Sesepuh, Tolea dan Tokoh Moronene Keuwia Rumbia lainnya, akan segera menyiapkan kegiatan Adat besar yaitu “Montewehi Wonua”. Yang mana nanti Insya Allah Paduka Yang Mulia Sultan Buton ke-41, LM. Sjamsul Qamar dipastikan akan hadir. Atas nama Pribadi dan mewakili Kerajaan, kami sangat berterimakasih kepada PYM. Atas sambutannya yang begitu hangat, dan ramah saat bersilaturahmi di kediaman beliau”, ucap Gufran.
Penulis: Sumardin,
Editor: Admin.




