
Silaturahmi dengan para Tokoh Pemekaran Kabupaten Bombana Bersama Pemerintah Kabupaten Bombana berjalan dengan alot dan nikmat. Kegiatan tersebut disambut baik oleh para Tokoh pejuang dan keluarga pejuang.
Pasalnya, menurut mereka, kegiatan dialog resmi yang digagaa oleh pemda ini baru untuk pertama kali dilakukan selama Bombana mekar menjadi Daerah Otonomi Baru Pisah dari Kabupaten Induk tepatnya (18 Desember 2003) silam. Namun begitu, saat berjalannya Dialog atau Diskusi, ada dari salah satu Tokoh pejuang yang tidak menerima ketika namanya tidak dimasukan yakni Bapak Ramsi Salo.
Alasan dia marah katanya melaui Media ini bukan tanpa alasan katanya. Sebab, pada saat Nama Tokoh pejuang yang lain dipanggil naik menerima Piagam Penghargaan, dirinya tidak disebutkan namanya. Bahkan, yang lebih membuatnya sedih hingga sedikit tersukur emosi karena, yang dianggapnya yang lebih tua dan juga sosok pejuang yang sangat berjasa kemarin Pak Suhar tidak juga disebutkan namanya.
“Yang buat saya sedih dan marah adalah, selain nama saya tidak ada, juga salah satu nama orang tua kita yang sangat berjasa dalam berjuang yakni Pak Suhar, tidak disebutkan juga namanya. Belum lagi Tokoh yang lain. Dan dalam hal ini saya mau bertanya, apakah Pemda Bombana yang saat ini Pj Bupati akan membuat kami Tokoh pejuang hanya menjadi penonton di Ngeri sendiri atau bagaimana, apakah kami juga akan dibuat bahagia?”, tegas Ramsi Salo.
Akan tetapi, terlepas dari semua itu, Ramsi Salo yang merupakan Putra Kelahiran Lantawonua, Kecamatan Rumbia sangat berterimakasih dan mengapresiasi kepada Pj Bupati Bombana Burhanuddin yang telah menginisiasi kegiatan Dialog semua Tokoh pejuang pemekaran. “Saya berharap kegiatan seperti ini kedepan siapapun Bupatinya akan terus dilakukan. Dan intinya, jangan juga lupakan kami”, tukasnya.
Saat terpisah, Anton Ferdinan yang bertindak selaku Ketua Kegiatan yang ditunjuk langsung oleh Pj Bupati Bombana melaui Media ini juga memberikan klarifikasinya terkait keributan yang sempat terjadi.
“Orang Tua kita marah itu adalah salah satu bentuk kecintaannya dengan Daerah ini. Kita harus pahami dan maklumi itu. Dan lewat ini pula saya sampaikan, sebenarnya semua Nama-nama pejuang itu ada sama saya. Tidak ada yang terlewatkan. Semuanya saya dokumentasukan. Hanya saja, yang dipermasalahkan kakak kita Ramsi Salo karena tidak disebutkan namanya, dan tidak naik menerima Piagam Penghargaan dari Pj Bupati karena memang kami menyebutkan namanya untuk naik menerima Piagam itu hanya secara simbolis saja. Tapi hakekatnya, semuanya namanya ada. Piagamnya pun ada. Tetap akan diberikan semuanya”, urai Anton Ferdinan yang juga saat ini menjabat sebagai Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bombana.
Alasan utamanya sambung Anton, berhubung Pj Bupati Bombana akan segera berangkat ke JakartaJakarta, jam 9 lewat beliau sudah harus ada di kendari. Makanya penerimaan Piagam itu kami percepat diawal acara. Padahal sejatinya, memang harusnya diberikan nanti diakhir acara. Sementara Nama-naman yang telah didata untuk mendapat Piagam itu berjumlah ratusan bahkan ditaksir bisa mencapai 3 ratusan. Jadi, hal yang tidak mungkin kata Anton disebutkan satu persatu berhubung kondisi waktu yang ada.
Dan Output dari kegiatan ini Kata Anton Ferdinan selalu Ketua kegiatan, dia tegaskan akan terus dilakukan di Tahun berikutnya siapapun nanti Bupatinya. “Bahkan, semua yang menjadi masukan dan saran dari semua Kakak, Orang-orang Tua pejuang kita, nantinya akan disampaikan ke Pj Bupati. Dan lewat ini pula nantinya akan dikaji dulu mekanismenya seperti apa, sehingga kedepan akan dibuatkan seperti payung hukumya biar lebih bagus dan kuat lagi”, tutupnya.



