Beranda Budaya Dari Talulu ke Neo-Talulu: Transformasi Seni Ornamental Moronene

Dari Talulu ke Neo-Talulu: Transformasi Seni Ornamental Moronene

0

OPINI: (Bagian terakhir dari dua tulisan)
Oleh: Kasra J. Munara

Wonuabombana.id – Bagi orang Moronene, seni bukan sekadar hiasan, melainkan identitas yang hidup. Salah satu warisan terpenting adalah seni ornamental Talulu—gaya ukir dan hias khas Moronene yang menghadirkan motif spiral, sulur, serta stilasi flora dan fauna. Talulu mula-mula hadir di rumah adat, tiang, bumbungan, dan benda ritual, lalu meluas ke medium baru seperti kain tenunan. Seni ornamental Talulu ini membuktikan bahwa tradisi bukan warisan mati, melainkan imajinasi yang terus bernapas; ia bisa menjelma menjadi kreasi kontemporer yang unik dan artistik, sekaligus tetap menjaga keterkaitannya dengan akar sosial-budaya masa lalu.

Talulu: Bahasa Ornamental Orang Moronene

Bagi masyarakat Moronene di Sulawesi Tenggara, seni bukan sekadar hiasan, melainkan identitas. Salah satu wujud paling khasnya adalah Talulu, istilah lokal untuk menyebut seni ukir hias dan ornamen yang menghiasi rumah adat, tiang, bumbungan, makam, serta benda-benda ritual. Talulu menghadirkan motif spiral, sulur, dan figur naga yang lahir dari tradisi Melayu Muda—warisan Austronesia yang diperkaya pengaruh Hindu-Buddha.

Bentuk dan Makna Talulu

Motif-motif Talulu tidak bersifat realistik, melainkan hasil stilasi: penyederhanaan bentuk alam, flora, fauna, atau makhluk imajiner menjadi pola hias ornamental. Spiral ganda, sulur memanjang, dan kepala naga dengan mata bulat serta lidah bercabang adalah contoh paling menonjol. Dalam kosmologi Moronene, Talulu adalah bahasa visual yang merekam hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan dunia gaib.

Jika pada fase awal Talulu menghadirkan naga dan spiral kosmologis, maka dalam perkembangannya di era terakhir motif naga perlahan menghilang. Yang muncul adalah bentuk-bentuk baru: kuku kerbau (kuku karambau), tanaman paku (burumpaku), ekor ayam (popae manu), kepala burung kakatua (tandu kea-kea) dan tameng (kinalawa).

Pergeseran ini menunjukkan transisi menuju Neo-Talulu—seni ornamental Moronene yang meninggalkan simbol kosmologi Hindu-Buddha dan beralih pada simbol-simbol sosial serta lingkungan hidup yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Selain bentuk, warna juga menjadi elemen penting dalam seni ornamental Talulu. Catatan Elbert (1912) menyebutkan bahwa motif Moronene kerap ditampilkan dengan kombinasi warna hitam, merah, kuning, dan putih. Warna-warna kontras ini tidak sekadar memperindah, tetapi juga memuat simbolisme: hitam melambangkan kekuatan dan bumi, merah kehidupan dan energi, kuning kemakmuran, dan putih kesucian. Dalam medium tenun, perpaduan warna inilah yang membuat Talulu semakin hidup sebagai bahasa visual lintas generasi.

Talulu dan Okir: Jejak Austronesia yang Sama

Menariknya, Talulu memiliki kemiripan dengan seni Okir di Filipina Selatan, yang berkembang di kalangan Maranao dan Tausug. Sama seperti Talulu, Okir menghadirkan spiral, sulur, dan naga sebagai ornamen utama, meski dipengaruhi oleh Islam. Perbedaan utamanya, Talulu lebih kuat dipengaruhi Hindu-Buddha, sedangkan Okir berkembang dalam bingkai estetika Islam. Namun keduanya menunjukkan bahwa masyarakat Austronesia punya akar bahasa visual yang sama: geometri sederhana yang kemudian berkembang menjadi spiral dan sulur ornamental.

Lahirnya Neo-Talulu dan Motif Kabaena

Dengan berkembangnya zaman dan peralata melukis/mengukir yang lebih bagus dari sebelumnya, melahirkan varian baru dari Talulu tahun tahun 2012, yang penulis menamakannya dengan istilah Neo-Talulu. Lahirnya varian baru ini juga merupakan upaya menggali dan mengkaji makna filosofis seni motif dan ornamental Moronene yang dikaitkan dengan perkembangan peradaban Masyarakat Moronene.

Motif-motif seperti Sosoronga, Bosu-Bosu, dan Burisininta menjadi representasi arah baru seni ornamental Moronene:

•  Bosu-Bosu menghadirkan repetisi setengah lingkaran menyerupai stilisasi pucuk enau atau aren (tumbuno rema). Bermakna sebagai pelindung atau pagar pengaman.
• Burisininta Menampilkan sulur panjang yang lebih dekoratif dan kontemporer, menyerupai stilasi tumbuhan pakis. Bermakna keinginan untuk kehidupan yang lebih maju.
• Sosoronga menekankan spiral kosmologis yang ritmis, menggunakan stilasi peti (soronga) yang dipadukan dengan motif bosu-bosu dan burisininta. Bermakna Masyarakat yang selalu memelihara hidup dalam satu ikatan komunitas yang kuat.

Bila dilihat dari segi tarikan garis dan bentuk stilasinya, maka ketiga varian ini tetap berakar pada bahasa visual Talulu lama, namun tampil lebih ekspresif, simbolis, dan adaptif terhadap konteks baru.

Kemudian tahun 2020, lahir juga motif baru bernama Motif Kabaena. Motif ini berbasis pada spiral-sulur simetris yang berakar dari tradisi Talulu dan gaya Melayu Muda namun memakai stilasi flora/spiral kosmologis. Sebagai melanjutkan jejak estetika Hindu–Buddha, tapi dilakukan stilasi ulang secara modern menggunakan garis-garis halus, lebih dekoratif, dipadukan dalam struktur silang atau bentuk mandala sederhana. Dengan kata lain ia merupakan motif revival yang menghidupkan kembali unsur klasik tapi dalam gaya grafis baru (digital/branding).

Dari Ukir/hiasan bangunan ke Kain Tenun: Memperluas jangkauan media ekspresi

Awalnya, Talulu berkembang dalam medium ukir—pada kayu, bambu, tanduk, dan arsitektur adat. Namun kini, motif-motif Talulu juga ditenun ke dalam kain tradisional, memperluas jangkauan media ekspresi. Kehadiran Talulu dalam kain tenun mempertegas sifatnya sebagai seni ornamental, yang lintas medium sekaligus lintas generasi. Sama seperti Okir di Filipina, Talulu bukan sekadar seni ukir, melainkan gaya ornamen khas yang bisa hidup di berbagai bentuk karya.

Sejumlah desain kain tenun dengan motif ornamen Talulu bukan saja telah menjadi ikon daerah Bombana tetapi menjadi kebanggaan identitas masyarakat Moronene. Kehadiran motif lain dalam media kain tenun atau produk hiasan seperti Motif Kabaena dan yang belum lama ini hangat diperbincangkan-Rapa Dara-tentu akan mempeerkaya khazanah corak dan ragam kani tenun Bombana.

Penutup: Tradisi yang Bertransformasi

Perjalanan Talulu ke Neo-Talulu menunjukkan vitalitas budaya Moronene. Seni ornamental ini tidak beku dalam masa lalu, tetapi bertransformasi menjadi bahasa kreatif yang hidup—dari tiang rumah adat hingga kain tenun modern. Transformasi ornamental Talulu menjadi varian-varian baru adalah bukti bahwa tradisi bukan sekadar pusaka, melainkan sumber daya imajinasi yang terus melahirkan bentuk-bentuk baru. Namun perlu penjadi perhatian bahwa bentuk-bantuk baru tersebut bisa saja menjadi motif hiasan di beberapa bentuk karya seni daerah seperti kain tenun dan produk hiasan lainnya namun mereka tidak bisa menggantikan fungsi ornamen Talulu sebagai simbol-simbol adat yang menjadi jati diri Moronene.

Sekian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here