Beranda Budaya Dari Melayu Tua ke Melayu Muda: Jejak Seni Motif Moronene

Dari Melayu Tua ke Melayu Muda: Jejak Seni Motif Moronene

0

OPINI: (Bagian pertama dari dua tulisan)
Oleh Kasra J. Munara
Wonuabombana.id – Orang Moronene menganyam sejarahnya bukan hanya lewat kata-kata, melainkan melalui motif—dari geometri purba hingga ornamen naga berpengaruh Hindu—mewakili transisi besar antara seni Melayu Tua dan Melayu Muda.

Seni Motif yang Hidup dari Masa ke Masa 

Sulawesi Tenggara bukan hanya kaya akan bentang alam dan sejarah, tetapi juga menyimpan jejak panjang perkembangan seni budaya yang unik. Di antara masyarakat Moronene—suku asli yang mendiami daratan dan Pulau Kabaena—seni bukan sekadar hiasan, melainkan bagian dari identitas kolektif. Motif-motif yang mereka ciptakan merekam perjalanan panjang dari warisan Austronesia purba hingga pengaruh besar Hindu dan Islam.

Namun, seni motif tradisional Moronene tidak semata-mata lahir dari pengaruh luar. Ia juga berakar kuat pada alam sekitar—flora dan fauna yang memberi sumber inspirasi—serta ditopang oleh daya imajinasi masyarakat Moronene yang berkarakter. Kombinasi antara pengaruh eksternal dan kekuatan kreatif internal inilah yang menjadikan seni motif Moronene unik sekaligus otentik

Warisan Melayu Tua: Motif Geometri Purba

Apa yang disebut sebagai seni Melayu Tua (proto-Melayu) merujuk pada bentuk seni Austronesia purba. Para peneliti awal abad ke-20 (Meyer, Richter, Sarasin) menyebutnya Urmalaya dalam istilah Jerman, namun lebih mudah dipahami sebagai “Melayu Tua”.

Ciri-cirinya sederhana: garis silang, titik, lingkaran, belah ketupat, dan bintang. Bentuk ini masih jelas terlihat pada anyaman Moronene, mulai dari keranjang besar (kompe), wadah sirih, hingga piring anyaman daun gebang. Selain itu, pada motif potongan pelepah palem, juga ditemukan bentuk oval, spiral pendek, dan rantai repetitif sederhana yang menjadi ciri khas transisi dari pola geometri murni ke bentuk yang lebih organis.

Bahkan ada bentuk unik yang mereka sebut “anyan gila” atau “anyaman gila”—pola geometris berlapis-lapis yang menampilkan kubus, belah ketupat, hingga heksagon. Motif seperti ini juga ditemukan di Bugis, Makassar, Sasak, hingga Bali, menunjukkan betapa luasnya persebaran seni purba Austronesia.

Transisi ke Melayu Muda: Motif Spiral dan Sulur

Perjalanan seni Moronene tidak berhenti pada geometri. Dari motif potongan pelepah palem yang masih sederhana—berupa oval, ikatan ganda, dan spiral pendek—perlahan lahir bentuk spiral ganda yang kemudian berkembang menjadi ornamen sulur. Pola ini menghiasi gelang kuningan, kotak sirih dari tanduk kerbau, bahkan bubungan rumah adat. Spiral yang semula sederhana berubah menjadi rantai sulur menyerupai ular atau naga.

Bentuk naga ini sangat khas: mata besar, mulut bergigi dengan lidah bercabang, hingga hiasan berujung tiga. Motif naga inilah yang dianggap sebagai pengaruh Hindu-Buddha, sejalan dengan artefak Majapahit di Jawa.

Puncak Melayu Muda: Pengaruh Hindu dan Islam

Tahap berikutnya dikenal sebagai seni Melayu Muda (Jungmalaya dalam istilah lama). Seni ini hadir seiring masuknya pengaruh Hindu-Buddha dan Islam melalui jalur perdagangan Nusantara.

Hadir sulaman (besticken) dengan teknik rantai maupun datar, menghiasi pakaian, syal, hingga kantong tembakau kecil. Ada pula ukiran kayu dan bambu yang menghadirkan motif naga, spiral, hingga flora stilasi. Stilasi adalah proses penyederhanaan bentuk suatu objek nyata (alam, manusia, hewan, tumbuhan, atau simbol) menjadi bentuk ornamental atau dekoratif).

Inilah tahap yang lebih kompleks dan dekoratif . Dari geometri purba ke sulur naga, Moronene menunjukkan kemampuan menyerap budaya Hindu-Buddha dan Islam tanpa kehilangan identitas lokalnya.

Identitas dalam Transformasi Seni motif Moronene memperlihatkan kesinambungan sejarah:
• Melayu Tua: geometri sederhana, anyaman, ukiran bambu.
• Transisi: spiral ganda yang mulai mengalami stilasi.
• Melayu Muda: ornamen sulur, naga, floral, sulaman, dan pengaruh Hindu-Islam.

Transformasi ini menegaskan bahwa seni bukan sesuatu yang statis. Ia bergerak, beradaptasi, dan menampung arus sejarah. Moronene memberi contoh bagaimana masyarakat lokal bisa menjaga akar purba sekaligus membuka diri pada pengaruh baru, sehingga lahirlah kekayaan estetika yang bertahan hingga kini.

(Bersambung ke bagian dua)
Referensi
1. Meyer, A. B., & Richter, O. (1904). Die Ornamentik der Südsee. Leipzig.
2. Sarasin, F. & Sarasin, P. (1905). Reisen in Celebes. Wiesbaden.
3. Elbert, J. (1911). Die Sunda-Expedition. Berlin.
4. Sigar, M. (2008). Seni Tradisional Sulawesi Tenggara. Kendari: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional.
5. Bellwood, P. (2000). Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here